Situ Gede Tasikmalaya yang mengecewakanku

Sunday, August 13, 2017

Hari ini adalah hari terakhir di kota ini dan kami tidak  tidak ada rencana yang pasti, jadi kami bangun sedikit agak siang, menikmati sarapan gorengan dan teh manis yang sudah mulai mendingin (maklum diantar ke kamar jam 5.30 pagi). Transportasi umum di Tasikmalaya ini sangat gampang, walaupun untuk menuju suatu tempat kita harus bertukar angkot terlebih dahulu karena masing masing angkot mempunyai tujuan yang bebeda tergantung nomor angkotnya.

Kami menuju jalan Tentara Pelajar untuk wisata kuliner, rencananya mau makan bubur ayam tetapi sayang belum buka, jadi kami pun brunch di satu warung makan Chinese yang tampaknya ramai dan benar, makanannya enak. Kebetulan anak yang pemilik warung tersebut hobby jalan juga, jadi kami pun bertukar cerita dan informasi dan tentu saja bertukar nomor telephone.

Curug Dengdeng adalah satu satu curug indah di Tasikmalaya yang ingin kami kunjungi tetapi menurut mereka tempat ini lumayan jauh dan transportasi umum pun sulit, kemungkinan besar kami akan kemalaman di jalan sehingga tidak bisa pulang ke Jakarta. Jadi pilihan yang tertinggal adalah Situ Gede, yang kalau menurut foto di google lumayan bagus untuk dikunjungi.
situ gede Tasikmalaya

Dari area ini kami naik angkot 09 ke persimpangan Situ Gede dan dari sini kita bisa naik ojek atau katanya jalan kaki juga tidak terlalu jauh, jadi kami pun memutuskan untuk jalan kaki. Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda tanda bahwa kami sudah mendekati lokasi. Matahari bersinar sangat terik, ingin naik ojek, tetapi tidak ada ojek yang lewat. Ingin hitching, tak ada mobil/pick up yang bisa ditumpangi sehingga mau tidak mau kami tetap melanjutkan dengan jalan kaki. Sepertinya kami berjalan sekitar 30-40 menit, dibawah sinar matahari tanpa topi/payung pelindung, kepalaku rasanya mau terbakar dipanggang, berharap view situ gede bisa mendinginkan kepalaku.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang situ gede, tetapi kami distop oleh beberapa orang yang mengaku sebagai penjaga dari situ gede ini dan meminta uang retribusi sebesar Rp. 20.000/orang. Aku langsung emosi karena informasi yang saya dapatkan tidak sebesar ini, saya ngotot minta tiket masuknya tetapi mereka tidak bisa memberikan dan akhirnya setelah berargumentasi sebentar akhirnya kami masuk juga dengan membayar Rp.20.000/3 orang.
situ gede Tasikmalaya

Begitu situ gede kelihatan di pelupuk mata, kami saling melirik bertiga, tersenyum dan tertawa, menertawakan diri sendiri. Duduk di pinggiran danau kami hanya bisa kecewa memandang pemandangan situ gede di depan kami. Danau dipenuhi ilalang baik di pinggir maupun ditengah danau.di pinggiran  danau bejejer rakit dengan rumah-rumahan kecil yang bisa diisi 2-3 orang, yang digunakan untuk memancing tetapi malah membuat situ gede ini berkesan jorok menurutku. Di pinggir danau banyak penjual makanan dan minuman yang untungnya harganya tidak terlalu mahal. Mendinginkan kepala kami pun memesan air kelapa muda.

situ gede Tasikmalaya

Mengisi waktu kami pun menyewa kapal untuk keliling situ gede dengan membayar Rp. 30.000 untuk bertiga dengan lama sekitar 15 menit. Walaupun agak ketengah danau masih terdapat ilalang, tetapi tidak sebanyak yang di pinggiran tadi.
situ gede Tasikmalaya

Tak ada transportasi umum dari situ gede ini dan tidak mungkin kami berjalan kaki lagi.  Saat melihat odong odong sedang menganggur, kami pun menawar untuk menyewa odong-odong tersebut untuk diantarkan ke jalan utama. Ada rasa geli sebenarnya saat menaiki odong odong ini apalagi saat kami melewati rumah rumah warga jadi selama di odong odong tak habis habisnya kami tertawa. Orang-orang menatap kami dengan aneh, mungkin si abang supir odong odong juga bertanya tanya dalam hati, anak anak yang kami lewati juga menatap kami dengan aneh dan sirik, mugkin?

Saat si abang  tahu bahwa kami belum pernah naik odong odong di masa kecil, si abang pun memain kan musik khas odong odong selama perjalanan, memecahkan keheningan jalan, mengundang lebih banyak pandangan ke odong odong, kami tepatnya, tapi tak apalah sesuatu yang gila lebih banyak kenangannya, tak pernah luput dari ingatan.



August 13, 2017
natalenaputri
Backpacker Traveller Updated at: August 13, 2017

0 comments:

Post a Comment