Mendadak trip ke Lovina, Bali Utara

Jika orang mendengar kata Lovina maka pasti yang langsung muncul di benak mereka adalah lumba-lumba. Yeah , Lovina terletak di utara Bali sekitar 2-3 jam dengan bis dari Bali, salah satunya adalah Perama Bus yang berangkat dari Kuta dengan biaya sekitar Rp 120.000. Untuk kenyamanan mungkin bisa memilih jalur ini tetapi kami ingin mencoba ngeteng, naik turun angkot biar adventurenya lebih terasa. Karena perjalanan ke Lovina ini memang tidak ada di planning kita sebelumnya, kita sibuk cari informasi di internet mengenai informasi public transportasi dan penginapan murah meriah.

Sebenarnya musim penghujan begini bukan waktu yang tepat untuk ke Lovina, soalnya jika ingin melihat lumba lumba pasti akan terkendala dengan cuaca, tetapi karena kami memang belum punya tiket pulang ke Jakarta  setelah perayaan Tahun Baru dari Bali dan harga tiketnya mahal sekali, maka option dari Surabaya lebih masuk akal plus bisa sekalian mampir ke Lovina.

Untuk menuju Lovina kita harus naik bis jurusan Singaraja (tidak ada bis langsung ke Lovina) dari terminal Ubung dengan biaya sekitar Rp. 45.000 dan dilanjutkan kembali dengan angkot ke Lovina. Perjananan kami naik turun angkot sangat panjang, mulai dari berjalan kaki ke daerah pasar kuta dari hotel (sekitar 15 menit) dilanjut naik angkot ke terminal Tegal, baru kemudian dilanjut dengan naik angkot lagi ke terminal ubung, baru deh naik bis ke Singaraja.

Kami belum menemukan hotel tetapi pantai sepertinya memanggil manggil lebih dulu, jadi dengan backpack di pungungung kami menikmati pantai dari jetty di pantai ini. Seorang Bapak dengan ramahnya menghampiri kami dan mulai bertanya tanya, kami tinggal dimana, udah dapat hotel belum dan lain lain. Kami menanggapi dengan sopan walau tetap memasang alert, eh kami malah disarankan untuk menginap di hotel Nirwana dan begitu kami cek hotelnya langsung, okaylah hotelnya, harganya juga murah cuma Rp. 120.000/malam, kami menambil yang model cottage tidak jauh dari reception area.

Lovina cukup sepi dibandingan dengan tempat wisata lainnya di kota Bali, bahkan yang kami temui kebanyakan bule bule yang sudah berusia lanjut. Bahkan penjual cinderamata yang ada di pinggiran pantai Lovina sangat sepi, bahkan ada beberapa yang tutup. Apakah karena sedang musim penghujan di bulan Januari sehingga tidak banyak pengunjung?

Bagi yang ingin daerah yang jauh dari hiruk piruk dengan harga hotel yang murah di dekat pantai, Lovina merupakan salah satu option. Hotelnya lumayan murah, warung warung yang didesign seperti cafe cafe kecil di pinggiran jalan memberikan service sekelas cafe dengan harga yang murah. Salah satu cafe yang saya recommend adalah JBa Warung, di jalan Mawar yang tidak jauh dari pantai.

Hari kedua sekaligus hari terakhir kami di Lovina, hujan deras membasahi bumi, tidak ada satu rencanya pun yang bisa dieksesuki. Lumba Lumba dan Menjangan otomatis tidak bisa, wisata memetik anggur pun tidak bisa dilakukan.Yang paling aku suka saat naik angkutan umum adalah interaksi dengan warga lokal, seperti yang kami alami di mini bus (elf) Seririt - Gilimanuk.

Saya berdua ngobrol ngobrol dengan Lidia mengenai anggur Lovina yang tidak jadi kami cicipi, tiba tiba seorang ibu menanggapi bahwa kami bisa beli nanti di pinggir jalan, soalnya kami akan melewatinya saat menuju Gilimanuk bahkan menitip pesan kepada pak supir bahwa kami mau beli anggur dan minta agar nanti berhenti sejenak. Waaaah, begitu menyenangkan dan membuat kita exciting, kita naik angkut umum tapi bisa berhenti buat beli barang, di Jakarta memang bisa? Nggak mungkin kan.  Dan benar bapak supir berhenti saat kami tiba di lokasi tersebut walo sebenarnya sudah pesimis kalau si bapak supir lupa soalnya perjalanan sudah lama sekali sejak ibu tersebut turun. Penumpang lain  tampaknya santai saja saat saya turun untuk membeli buah, tidak ada complain dan marah marah, tapi juga saya tahu diri dong, beli buah ya nggak pake lama lama,kasian juga kalo mereka kelamaan nunggu. Cinta deh ama situasi seperti ini, terasa Indonesia banget.

Perjalanan menuju Jakarta masih panjang, harus naik kapal dulu ke Pelabuhan Ketapang terus lanjut naik kereta ke Surabaya dan baru dengan pesawat ke Jakarta, tapi namanya juga jalan jalan ya mari kita nikmati saja setiap moment yang ada.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser