Taman Laut Bunaken dan Bitung (Part 3: Solo Trip ke Manado)

Hujan deras menyambut pagi, aku sedikit was-was hujan akan turun sepanjang hari dan ini berarti perjalanan kami ke Bunaken hari ini terpaksa dibatalkan dan aku harus pulang ke Jakarta besok hari tanpa sempat ke Bunaken, tujuan utama perjalanan ini. Tetapi sepertinya alam masih membantuku, hujan berangsur angsur mereda, meninggalkan gerimis gerimis kecil, jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Mobil  Mba Arin pun meluncur ke pelabuhan Calaca, si bapak kapal pun yang sudah di atur kemarin kami minta untuk menunggu karena  Ahmad dan temannya belum sampai juga dan karena di area mereka masih hujan deras mereka belum tahu jam berapa mereka akan bisa sampai atau apakah mereka akan tetap bisa pergi, sebuah ketidakpastian.

Pilihannya adalah tetap berangkat berdua saja tetapi tentu saja biaya yang kami keluarkan akan lebih mahal dan sepertinya Theresia kurang tertarik karena melebihi budgetnya. Sebenarnya dia sudah ke diving di Bunaken tetapi tertarik ingin ikut karena biayanya cukup kecil jika kami berangkat berempat atau berlima plus kami rencananya akan mengunjuni pulau Siladen dan Manado Tua yang belum sempat dia datangi. Sepertinya kami masih diliputi keberuntungan, mba Arin  menemukan  tumpangan kapal buat kami, sharing dengan anak-anak kuliah yang akan penelitian di Bunaken. Dengan menambha beberapa ratus ribu lagi kami akan diantarkan untuk snorkling, walau hanya di 1 lokasi di sekitar Bunaken. Untung saja kapal yang kemarin malam kami booking tidak marah marah walau tampak kecewa dari nada suaranya dan kelihatan sedikit kesal, maaf Pak kami terpaksa.
Perjalanan pelabuhan - Bunaken memakan waktu sekitar 45 menit, di bawah langit mendung dan awan awan yang berwarna hitam kami masih bisa  melihat gunung Manado Tua di pulau Manado Tua, bagaikan sebuah gunung yang muncul dari dalam laut. Kami mengantarkan para mahasiswa tersebut ke dermaga di pulau Bunaken dan tanpa membuang waktu kami berangkat menuju spot snorkling setelah mnyewa 1 set alat snorkel untuk awak kapal yang akan menemani kami snorkling dengan harga Rp. 100.000. Sebenarnya kami tidak membutuhkan seseorang yang menguide kami tapi menurut si bapak kapal, itu wajib jadi kami tidak punya pilihan lain.

Si bapak kapal membawa kami ke taman laut Bunaken yang tidak jauh dari dermaga, sekitar 15-20 menit dari dermaga dengan kapal. Spot tersebut sangat sepi, hanya kapal kami yang melemparkan jangkar. Menurutnya spot untuk snorkling dan diving di Bunaken ini dipisah untuk menjaga karang karena banyak sekali tamu yang snorkling merusak karang dengan menginjaknya entah karena itu sengaja maupun tidak sengaja.

Sebenarnya kita bisa sewa kapal Katamaran (glass bottom) untuk melihat Taman Bunaken dari atas kapal tetapi sewanya agak mahal, tetapi bisa juga dinego pada saat kita sewa kapal untuk snorkeling, bisa dinego agar harga yang kita bayar termasuk untuk kapal Katamaran (dari kapal yang kita sewa kita akan pindah ke kapal Katamaran sebentar untuk melihat Taman Laut Bunaken dan kemudian baru kita snorkeling ke spot yang lain). Untuk sewa kapal di Bunaken sekitar Rp.500.000 - Rp. 1.000.000 (tergantung besar kapal dan keahliahan nego).

Spot snorkling yang kami kunjungi cukup bagus, airnya jernih visibility-nya lumayan bagus walaupun mendung masih menutup langit. Salah satu daya tarik Bunaken adalah palunnya,  karang-karang raksasa membentuk dinding-dinding di dalam laut entahlah sampai kedalaman berapa. palung karang ini biasanya sangat disukai para diver tetapi bagi saya yang hanya snorkeling agak membuat saya takut. Bayangkan saat kita sedang snorkling tiba tiba di salah satu sisi kita seperti melihat jurang tanpa dasar, agak menakutkan bukan? Theresia seorang diver dan selain itu ia juga seorang free diver dan ia sangat menikmati hal ini. Sudah hampir dua jam berlalu, arus sudah mulai terasa deras dan kami pun diharuskan kembali ke kapal. Kami kembali ke dermaga Bunaken untuk mengembalikan alat snorkel yang kami sewa dan kali ini aku sempat turun ke pantainya.

Pantainya memiliki pasir putih kekuningan dengan garis pantai yang tidak terlalu luas padahal saat ini pantai sedang surut, bagaimana kalau air sedang pasang, seluas apa pantainya? Di sekitar dermaga terdapat warung warung tenda penyewaan alat alat snorkel, penjual es kelapa dan gorengan dan juga penjual baju baju dan aksesoris Manado tetapi kesannya agak berantakan.
Di ujung pantai sebelah kanan dermaga yang letaknya agak jauh berdiri sebuah resort bagi yang ingin menginap dengan dengan budget yang tinggi atau bagi yang punya budget kecil bisa menginap di area kampung Bunaken. Entah karena air laut sedang surut atau memang biasanya seperti itu, banyak sekali bintang laut yang pinggir pantai, kebanyakan berwarna orange kemerahan walaupun ada juga yang berwarna ungu, tergeletak begitu saja seolah olah tidak bernyawa. Entah karena aku datang sendiri atau hanya berdua dengan si bapak kapal, aku tidak membayar uang masuk ke pulau Bunaken. Theresia memutuskan menunggu di kapal karena tidak ingin membayar uang masuk yang lumayan mahal bagi orang asing.
Cuaca bukannya membaik tapi malah memburuk. Angin bertiap dengan sangat kencang dan bukan pertanda baik, bapak pemilik kapal memutuskan untuk harus segera kembali ke Manado sebelum terlambat. Karena jika cuaca bertambah buruk kami tidak akan bisa kembali hari ini dan ini tidak boleh terjadi karena besok pesawatku berangkat pagi. Ombak terasa sangat kencang menerpa kapal padahal kapal kami lumayan besar belum lagi ditengah perjalanan hujan turun sangat deras. Hujan deras yang diselangi oleh petir, ditambah angin yang sangat kencang dan ombak yang begitu besar membuat perjalanan pulang ini memberikan sensasi yang berbeda. Setiap ombak besar menguncang kapal air laut tanpa ampun membasahi kami semua di kapal, bukannya takut kami malah tertawa tawa apalagi kalau ada ombak besar, aku dan Theresia menjerit penuh excitement seperti tidak kenal takut padahal tangan menggenggam erat pinggiran kapal, si bapak kapal pasti tahu apa yang ia lakukan. Hujan masih turun dengan derasnya sangat kami sampai di pelabuhan Calaca dengan sangat basah kuyub. 
Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore saat kami selesai beres beres untuk berangkat ke Bitung, rencana mendadak dilontarkan mba Arin dalam perjalanan pelabuhan Calaca ke rumah. Banyak spot bagus di sekitar Bitung sebenarnya tetapi kami tidak punya waktu banyak jadi kami hanya  melihat Tarsius yaitu primata terkecil di dunia. Perjalanan Manado - Bitung kami tempuh dalam waktu 2 jam, Ryo, temannya mba Arin yang asli Bitung memandu dengan motor. Sayang kami sampai sudah terlalu malam di lokasi, kami tidak menemukan Tarsius, menurut ranger yang menemani kami, biasanya jam begini Tarsius sudah tidur. Kami harus cukup puas dengan Kalajengking raksasa. Kami tidak membayar uang masuk kesini karena sudah malam, membayar ranger lokal seikhlasnya.

Sebelum pulang kami dijamu makan malam yang mewah dirumah Ryo, kita jadi "keenakan", sudah ditemanin ke lokasi Tarsius, dijamu makan, pulangnya dioleh-olehin durian pula, kita diservice habis.Terima kasih buat Ryo dan keluarganya.
Dalam perjalanan pulang kita kena random razia random (kira-kira) 1 jam dari tempatnya Rio dan waktu diminta STNK kita baru sadar kalo tas mba Arin ketinggalan. Untungnya Bapak polisinya pengertian (mungkin karena tampang memelas kita kali ya) dan menginjinkan kita untuk kembali mengambil tas yang ketinggalan tersebut, razia membawa berkah kali ini. Ini malam terakhirku di Manado, besok pagi aku akan kembali ke Jakarta, Mba Arin akan mengantarkan aku ke airport. Terima kasih Mba Karin telah menjadi host yang super baik dan menolong selama saya di Manado.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser