Jalan Jalan Sendiri di Tomohon (Part 2: Solo trip ke Manado )

Hari ini aku berangkat sendiri ke Tomohon dengan menggunakan transportasi umum. Saya sudah diwanti wanti oleh mba Arin agar jangan pulang terlalu malam karena transportasi dari Tomohon itu tidak sampai malam banget, jadi aku harus pintar membagi waktu. Mba Arin mengantarkan saya ke "zero point", untuk mengambil angkot yang menuju terminal Karombosan (saya lupa no berapa) tapi gampang, tinggal tanya saja sama orang di sekitar. Perjalanan ke terminal sekitar 30 menit karena angkot suka berhenti untuk mengambil dan menurunkan penumpang dan agak macet karena melewati pasar.

Terminal Karombosan belum tertata dengan rapi, tidak ada petunjuk bis dan tujuannya, jadi kita harus bertanya pada orang-orang sekitar yang mana bis yang menuju Tomohon karena begitu banyak bis yang berada di terminal dengan arah yang tidak beraturan. Saya naik ke bis yang ditunjukkan oleh ibu pemilik warung dalam terminal dan pada saat saya naik sudah lumayan banyak penumpang yang ada di bis tetapi kami masih menunggu penumpang yang lain. Kurang lebih 30 menit kemudian akhirnya bis berangkat juga ke Tomohon (ongkos sekitar Rp. 8.000).

Perjalanan Manado - Tomohon seharusnya hanya sekitar 1 jam tetapi karena bis menaikkan dan menurunkan penumpang di tengah jalan, kami pun baru sampai 1.5 jam di terminal Tomohon. Salah satu tujuan saya di Tomohon ini adalah pasar Beriman yang lokasinya bersebelahan dengan terminal. Pasar Termohon bukan sembarang pasar tradisional karena pasar ini terkenal ekstrim, menjual hewan hewan  yang tidak lazim buat dimakan pada umumnya seperti tikus, ular, babi hutan dan lain lain tetapi dimakan oleh orang Manado, sampai ada candaan "orang Manado makan semua kaki kecuali kaki meja". Candaan ini sering kami pakai gunakan saat sedang keluar makan dengan teman Manado. Jika ingin melihat suasana pasar yang lebih "ekstrim" disarankan datang hari Sabtu karena binatang yang dijual lebih bervariasi tetapi kalo datang di hari biasa paling hanya menemukan anjing, babi atau tikus.

Saya hanya menghabiskan paling 10 menit didalam pasar untuk photo-photo, karena selain area penjual hewan tersebut yang lainnya sama dengan pasar tradisional lainnya. Saya berdiri di pinggir jalan dekat terminal, melihat lihat "buku pintar" saya dan menimbang nimbang apakah saya harus ke Tondano dulu atau ke Bukit Kasih dulu karena berdasarkan informasi dari internet Bukit Kasih itu jaraknya 2 jam dari Tomohon, saya takut tidak punya cukup waktu. Saat saya berdiri di pinggir jalan melihat lihat jadwal saya, orang orang yang berlalu lalang melihat saya dengan pandangan aneh penuh selidik, saya bingung kenapa.
Setelah menghitung hitung waktu dan jarak akhirnya saya memutuskan ke Bukit Kasih dan danau Linow dulu dan kalau memang ada waktu baru ke Tondano.  Saya harus naik angkot ke kota Kawangkoan, agak bingung dengan terminal disini karena benar benar minim informasi, pokoknya modal disini buang malu untuk bertanya.  Saat saya sampai di dalam terminal, mikrolet yang menuju kota Kawangkoan masih kosong banget, katanya sih bakal berangkat sekitar setengah sampai 1 jam lagi, duh waktu saya mepet nih. Melihat muka saya yang mungkin minta dikasihani, si bapak supir menyuruh saya naik mirkrolet yang sudah ada di dekat pintu keluar terminal yang siap berangkat, ah syukurlah saya bisa hemat waktu. Didalam mikrolet sudah banyak penumpang, walau tidak penuh dan kami pun langsung berangkat. Sama seperti di beberapa daerah, angkot terkadang mau menjemput ke rumah penumpang, seperti yang kami alami mikrolet singgah untuk menjemput sekitar 3 orang penumpang lagi di rumahnya beserta barangnya.

Sudah hampir jam 11 pagi dan saya masih di angkot, otak saya mengkalkulasi dengan cepat dan  saya pun berubah pikiran, berteriak ke abang agar saya diturunkan di danau Linow. Si abang supir ngomong sesuatu yang saya tidak jelas dengar, semua penumpang yang didepan menolehkan kepalanya ke arah saya yang kebetulan duduk di baris no 2 dari belakang, memandang saya heran, dan seorang penumpang menjelaskan bawha danau Linow sudah jaaaaaauh kami lewati dan menyarankan saya agar tetap ke Kawangkoan karena paling jaraknya hanya sekitar 30 menit lagi.
Sepanjang sisa perjalanan saya diwawancara oleh orang orang di sekitar saya duduk khususnya ibu dan bapak yang duduk di sebelah saya, tiba tiba saya mejadi artis di mikrolet. "Kamu dari mana" "pergi sama siapa" "ini jalan sendiri?" "kok anak perempuan jalan sendiri?" "umur kamu berapa", pertanyaan yang tidak ada habis-habisnya dan kujawab satu-satu dengan sabar, pantesan tadi waktu di terminal Tomohon aku juga diperhatikan karena mungkin tampangku bukan seperti orang lokal dan aku perempuan yang berjalan sendiri.

Sebenarnya aku sudah mau ketawa karena aku diperlakukan kaya anak kecil tetapi yang bias kulakukan hanya tersenyum karena pasti dianggap tidak sopan.  Dan akhirnya mereka sibuk berdiskusi dan berargumentasi untuk memberikan aku option ke bukit kasih dan bahkan saat turun dari mikrolet di Kawangkoan mereka berlima mencarikan ojek buatku, nego buatku, sampai-sampai si tukang ojek bingung aku diantarkan 4 tante dan 1 om. Mereka kasih wanti-wanti ke bapak ojek, sampai aku berangkat meninggalkan mereka di terminal Kawangoan, mereka masih menatapku dari kejauhan, terimakasih bapak dan ibu. Ojek ini aku charter Rp. 20.000 untuk pulang pergi Kawangkoan - Bukit Kasih -Kawangkoan, termasuk sangat murah bila dibandingkan dengan jaraknya.
Di Bukit Kasih ini dibangun 4 tempat ibadah yang berbeda yaitu Gereja, Mesjid, Klenteng dan Pura yang lokasinya berdampingan. Bukit Kasih ini melambangkan kerukunan hidup umat beragama, walaupun berbeda agama kita diharapkan untuk bias hidup berdampingan. Tidak ada biaya masuk untuk kesini, hanya mengisi buku tamu dan memberi sumbangan sukarela.
Lokasi bangunan tempat beribadah tersebut berada di puncak bukit ini dan untuk mencapainya kita harus menaiki anak tangga yang lumayan panjang dan tinggi. Siang itu  udara sangat panas, entah berapa kali aku harus berhenti hanya untuk mengatur napas atau menikmati pemandangan dari ketinggian. Hanya ada beberapa orang yang aku temui disini, kebanyakan adalah oran local Manado, mungkin karena bukan hari libur atau hari Minggu.
Aku sampai di terminal Kawongkoan sekitar jam 12 siang dan langsung naik mikrolet yang menuju Tomohon tapi seperti biasa, harus menunggu agar mikrolet penuh. Sebelum naik aku meminta pak supir agar menurunkan aku di danau Linow (ongkos Rp. 5.000), jaraknya kurang lebih setengah jam dari Kawongkoan. Sampai di persimpangan danau Linow aku tidak melihat ada ojek yang ngetem, dan aku pun memutuskan berjalan kedalam, katanya sih 750m. Mudah-muahan nanti ada ojek yang lewat atau mobil yang bisa aku tumpangi. Tidak ada ojek yang lewat, tetapi ada beberapa mobil yang lewat, tapi begitu aku memberi kode "jempol", tanda untuk menumpang tidak ada mobil yang berhenti, bahkan memandang aneh, ah sudahlah, mungkin aku memang harus jalan.
Danau Linow (berada di Lahendong) ini punya pesona warna yang hijau yang cantik yang bisa berubah menjadi 3 warna akibat kadar belerang yang terkandung dibawah danau. Untuk menikmati danau ini bisa masuk ke area wisata yang dikelola sebuah restoran (dengan membayar Rp. 25.000, dapat kopi/teh) dan bisa mendapatkan pisang goroho dengan tambahan Rp. 25.000 lagi atau area wisata yang lebih murah tak jauh dari restoran ini, cukup membayar Rp. 5000 saja, cuma lokasi yang depan restoran jauh lebih bagus dan terawat.
Saya tidak bisa berlama-lama di sini jadi saya cuma masuk ke area wisata yang murah, menikmati pemandangan ditemani semangkuk indomie cukup bagi saya, karena saya harus kembali ke Tomohon. Dari danau Linow ini saya kembali harus berjalan ke jalan raya (benar-benar olahraga yang melelahkan di siang hari), menunggu mikrolet yang menuju terminal Tomohon.Dari terminal Tomohon saya menyewa ojek untuk mengantarkan saya ke Bukit Doa, rumah adat minahasa, vihara dan juga danau Tondano (saya lupa ratenya, tapi sekitar 50.000 - 70.000 kalo ga salah). Sebenarnya saya sudah budgetin sekitar Rp. 100.000 karena Tondano termasuk jauh, tapi Bapaknya langsung kasih penawaran yang sangat murah, diluar dari budget saya, jadi saya langsung setuju saja.

Tempat pertama yang saya tuju adalah Bukit Doa, tempatnya adem dan asri. Saya kurang mendapatkan banyak informasi mengenai apa dan dimana yang bisa bisa lihat di Bukit Doa ini karena awalnya tempat ini tidak masuk daftar lokasi yang harus saya tuju tetapi malam sebelumnya saya disarankan oleh teman Couchsurfing untuk kesini, sama sekali saya tidak punya bayangan kalau tempatnya begitu luas, jadi saya bingung menuju arah mana untuk melihat spot-spot photo yang kemarin ditunjukkan ke saya dan bapak ojek saya juga kurang tahu, jadilah saya hanya mengambil photo sedikit disini.
Padahal disini ada puncak bukit (informasinya berjalan ke arah puncak via Dolorosa), dimana dari atas puncak bukit ini kita bisa menikmati pemandangan Gunung Lokon. Di puncak ini juga terdapat The Grotto of Mother Mary, Gua Mahawu dan Amphiteater (berbentuk setengah lingkaran dan terlihat seperti Coloseum di Roma, biasanya digunakan sebagai lokasi pertunjukan seni dan budaya dan juga lokasi fotografi).
Spot selanjutnya Pagoda Ekayana di vihara Buddayana, vihara ini letaknya agak terpencil, tidak berada di jalan utama sehingga agak sedikit sulit menemukannya, dikelililingi oleh banyak sawah-sawah harga. Saat menuju tempat ini saya masih sempat melihat rumah-rumah warga yang masih berbentuk rumah panggung.
Saya menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam disini dan perjalanan dilanjutkan ke danau Tondano tetapi sebelumnya kami akan singgah ke rumah adat Minahasa. Di Tomohon penduduknya sudah banyak yang tidak tinggal di rumah panggung, rumah-rumah panggung ini dibuat dan biasanya dikirim ke luar negeri. Rumah panggung ini bisa juga dibongkar pasang, dipindah-pindahkan, hebat sekali ya orang kita.
Lokasi rumah panggung ini ada di jalan raya, karena tujuannya memang seperti show room agar oran bisa melihat langsung, memesan dan beli. Dari sini saya melanjutkan perjalann ke danau Tondano, lokasi terakhir saya di kota ini. Jalanan di kota ini sudah diaspal bagus, sangat lebar dan asri, di kiri kanan bahu jalan selama perjalanan ke Tondano saya disuguhi hamparan sawah hijau dan juga berwarna warni karena para petani memasang tali & plastik-plastik untuk mengusir burung.
Katanya sih di danau Tondano bagus untuk melihat sunset sambil menikmati goreng pisang, tapi sayang saya tidak punya waktu banyak, saya harus mengejar bis kembali ke Manado sore ini. Di pinggiran danau Tondano banyak eceng gondok, sangat menggangu sih menurut saya, mengurangi keindahan dari danau ini.
Sudah jam 4 sore, kami bergegas kembali ke Tomohon untuk mengejar bis ke Manado tapi saya diinformasikan kalau Tomohon - Manado ada mobil avanza dengan tarif Rp. 10.000, lebih nyaman dan tentunya lebih cepat, cuma menunggunya tidak di terminal, tetapi di dalam kota Tomohonnya (lupa namanya). Tetapi mobil avanza ini tidak sampai terminal, hanya sampai pusat kota (tempa tertentu). Kita harus menginformasikan tujuan kita dan jika mobil tidak sampai kesana, kita bisa nego untuk diantar tentunya menambah ongkos. Saya sendiri harus nyambung angkot lagi untuk menuju titik temu saya dengan Mba Karin, di MCD. Tidak ada bayangan awalnya harus naik apa, tapi orang Manado ramah-ramah  dan suka menolong termasuk supirnya. Tinggal tanya saya langsung diturnunkan di lokasi terdekat dari tujuan saya, diarahkan juga cara menuju lokasi kesana.   Hari ini ditutup dengan dinner bareng Mba Arin dan Ahmad lagi





Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser