Catatan Perjalanan Thailand Utara [Part 3} : A day tour to Chiang Rai, Karen Long Neck Village and Golden Triangle

Awalnya saya tidak ingin mengambil tour travel untuk trip ke Chiang Rai ini, tapi karena keterbatasan waktu dan perubahan planning dan setelah kegalauan panjang akhirnya kami mengambil keputusan untuk membeli paket tour ini dari hotel, untung hotel kami masih ada kamar kosong sehingga tidak perlu pindah hotel.


Sekitar pukul 7 pagi mobil elf sudah datang menjemput kami bertiga di hotel dan setelah menjemput beberapa orang lagi perjalanan pun di lanjutkan ke spot pertama yaitu Hot Spring (lama perjalanan sekitar 1 jam). Tempat ini biasa banget, hanya mata air kecil yang menyembur dari dalam tanah seperti air mancur saja. Di tempat ini kita bisa juga memasak telur, para penjual telur mentah langsung berdatangan saat elf masuk ke area ini, untung kita disini cuma sebentar, sekitar 15 menit saja.


Dari tempat ini kita menuju White Temple (Wat Rong Khun), seperti namanya warna dari candi ini memang putih berbeda dengan candi candi lainnya di Thailand. Bangunannya didesain oleh seorang seniman Thailand bernama Chalermchal Kositpipat, pendanaan pun dari kantong pribadinya sendiri. Candi ini belum selesai diperkirakan akan selesai dibangun pada tahun 2070, yang nantinya akan terdiri dari 9 bangunan. Menurut informasi dari guide kami, si seniman mengharapkan agar anaknya menyelesaikan design tersebut dengan idenya sendiri tanpa merubah makna dari candi tersebut.



White Temple ini sangat indah, dibangun dari potongan kaca dan akan berkilauan jika terkena sinar matahari, candi ini juga menggambarkan kehidupan manusia. Jembatan sebagai pintu masuk satu jalur (pintu masuk dan keluar berbeda) menuju candi utama (Ubosot) menggambarkan siklus hidup manusia yang selalu bergerak maju dan bukan mundur. Jembatan ini juga diibaratkan sebagai jalan menuju kebahagiaan (surga, yang disimbolkan dengan Ubosot) yang hanya bisa dicapai oleh orang yang berhasil mengalahkan hawa nafsu, godaan duniawi dan ketamakan sementara bagi mereka yang gagal mengalahkan rasa itu akan terperangkap dalam 'neraka' yang disimbolkan dengan ratusan tangan yang menggapai gapai dari dalam jurang meminta pertolongan tepat didepan jembatan ini.



Pintu masuk dari Ubosot ini dikawal oleh dua makhluk yang menyimbolkan 'Death' dan 'Rahu', setelah melalui gate ini kita akan masuk ke 'surga' (Ubosot). Bagian dalam dari Ubosot yang berwarna emas ini sangat kontras dengan bagian luarnyaberwarna putih berkilauan dipenuhi dengan pahatan timbul. Di dalam dinding Ubosot terdapat berbagai lukisan yang menggambarkan kekuatan baik dan jahat dan juga berbagai lukisan tokoh superhero dan tokoh-tokoh terkenal lainnya seperti Superman, Batman, Harry Potter dan lain-lain, di dalam Ubosot kita tidak bisa mengambil gambar. Toilet di kawasan White Temple ini pun didesain sangat menarik dengan warna kuning emas yang menyimbolkan "tubuh manusia" yang terlalu fokus dengan keinginan duniawi dan harta sedangkan Ubosot sendiri disimbolkan sebagai pikiran (rohani), harapannya tubuh dan pikiran manusia bisa bersatu dengan lebih mengutamakan hal hal rohani.



Untuk masuk ke sini tidak dipungut bayaran tapi diharapkan untuk berpakain yang sopan tidak memakai celana pendek/rok mini. Disarankan untuk datang pagi hari agar tidak teralu ramai dengan pengunjung.

Selanjutnya kami menuju desa wisata Karen Long Neck Village, di tempat ini terdapat juga suku lain seperti suku Akha, suku Lisu tetapi yang paling terkenal adalah suku Karen dengan gelang di leher mereka. Di tempat ini meraka menjual souvernir souvenir hasil kerajinan tangan dan juga kain hasil tenunan, jika ingin membeli oleh-oleh kain tenunan sebaiknya beli disini saja karena harganya jauh lebih murah di banding di pasar di Bangkok maupun Chiang Mai.



Awalnya suku Karen ini memakai gelang di leher untuk menghindari gigitan binatang buas, tetapi sekarang lebih kepada "kecantikan" karena mereka percaya semakin panjang leher (berarti semakin banyak/berat gelang di leher), wanita tersebut semakin cantik. Mereka mulai memakai kalung di leher sejak umur 5 tahun dimana berat/banyaknya gelang akan berubah dan gelang ini tidak pernah dilepas dari leher mereka.


Setelah makan siang kami kami menuju Golden Triangle, yaitu perbatasan antara Thailand Utara, Laos dan Myanmar, dulunya tempat ini merupakan pusat perdagangan Narkoba.



Dari Golden Triangle (dermaha di Chiang Saen) ini tour dilanjutkan dengan naik boat menyusuri sungai Mekong (tidak termasuk paket perlu membayar 300 bath lagi) dan nantinya akan singgah di Don Xau, kota terluar dari Laos, tidak perlu visa sampai kota ini. Menurut informasi tour sungai Mekong ini kurang menarik, di Don Xau cuma bisa belanja atau bisa menikmati minuman keras yang ada campuran binatangnya seperti cicak, ular dan kalajengking jadi kami memutuskan untuk tidak join di boat tour ini, kita explore daerah ini aja.


Ada Big Budha, House of Opium Museum dan bisa berpoto didepan gate dengan tulisan Golden Triangle, di sekitar ini banyak yang menjual souvenir/oleh oleh juga.




Tempat terakhir yang kami tuju adalah kota Mae Sai, perbatasan Myanmar dan Thailand. Untuk masuk ke Myanmar harus membayar visa sebesar 500 baht dan karena kami tidak punya waktu banyak kami hanya photo photo di perbatasan ini.




Di tempat ini juga terdapat pasar yang menjual baju, boneka dan lain lain yang harnya jauh lebih murah dari night market Chiang Mai. Kami sampai di Chiang Mai sekitar jam 7 malam.




Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser