Pantai Lubang Buaya Ambon, pantai yang masih "perawan"

Pesawat mendarat di Bandara Pattimura Ambon setengah jam lebih awal. Rencananya saya akan mengajak teman tripini untuk naik transportasi ke pusat kota, bergaya ala backpackeran. Tetapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil pilihan no 1 karena tidak tahu berapa lama kami harus menunggu jika mengambil pilihan no 2 dan dari segi biaya pun selisihnya tidak banyak dan informasi pada poin no 3 baru kami dapatkan dari Bapak supir yang membawa kami dari airport ke hotel.

Perjalanan darat lebih jauh karena kita harus berjalan memutari teluk Ambon, harapannya setelah jembatan Merah Putih selesai akan mempersingkat jarak pusat kota dengan airport.

Setelah early check in kami direkomendasikan untuk mencoba sarapan di Chili Padi tetapi sayang belum buka jadi akhirnya kami mencoba makanan di Walang Sibu-Sibu, entah karena kepagian nasi pulut yang ingin saya coba malah belum ada jadi terpaksa puas dengan nasi goreng. Kembali ke hotel kami memutuskan untuk beristirahat saja sambil menunggu teman dari Manado yang akan landing siang ini.

Hari ini kita akan ke pantai Lubang Buaya di daerah Morella, penasaran dengan warna lautnya yang hijau tosca dan menurut info pesona bawah lautnya juga keren. Jarak airport ke pantai ini kurang lebih 1.5 jam, dalam perjalanan kami melewati beberapa desa yang warna rumahnya sangat colourful yang berbentuk unik/masih tradisional.  Kami juga melewati 2 desa yang masih bersitegang dan masih di jaga oleh tentara tetapi cukup aman untuk kita lewati.

Pantai ini agak tersembunyi, kita tidak akan pernah tahu kalau dibawah sana ada pantai yang bagus untuk didatangi, hanya ada papan petunjuk dengan tulisan pantai lubang buaya di pinggir jalan tepat dimana mobil kami berhenti, jadi tanpa orang yang sudah tahu lokasi tepat pantai ini, mungkin kita tidak akan menemukannya. Dari jalan raya, kita jalan menyusuri jalan setapak sekitar 8 menit dan kita akan segera menemukan pantai dengan warna lautnya yang hijau tosca, di sebelah kiri ada anak sungai kecil yang mengalir langsung ke laut.

Untuk menuju area pantai yang agak landai dan berpasir  yang juga merupakan lokasi snorkling, kita harus berjalan memutari lereng bukit dan juga melakukan misi menyebrang laut sekitar 1.5m dengan kedalaman laut sekitar 50-100m diatas sebuah kayu kecil yang telah diletakkan melintang atau bisa juga menggunakan kano kecil warga yang membiakkan ikan hias di area ini dengan membayar seikhlasnya.

Dari tepi laut saja kita sudah bisa melihat karang raksasa yang tumbuh sampai ke atas permukaan laut yang berawarna biru gelap (mendandakan laut yang dalam kan?), karang tersebut tampak seperti batu kokoh di tengah laut, awalnya aku juga mengira itu batu dan karena kedalamannya pula aku tidak berani untuk turun dan mengambil video bawah lautnya. Menurut si Bapak kano, tempat ini  sudah cukup terkenal bagi para divers, mereka menyukai tempat ini karena palungnya dan juga ada beberapa lubang gua di dalam laut.

Sementara di area snorklingnya, kedalaman lautnya masih bersahabat buat snorkling dan  tapi itupun cuma sekitar 3-8 meter dari tepi pantai dan setelah itu langsung palung laut dan karena semua peserta pemula di 'bidang snorkling" jadi mainnya di tepi tepi saja yang penting eksis di dalam bawah air.  Karangnya lumayan bagus, cukup berwarna dan bervariasi dan  satu hal yang paling aku suka adalah air lautnya tidak begitu lengket di badan.




Tidak ada penyewaan alat snorkel di tempat ini jadi jika berniat untuk snorkling sebaiknya dibawa dari kota Ambon /kota asal. Setelah menikmati indahnya sunset di pantai ini, kami kembali ke Ambon, makan malam dan beristirahat untuk perjalanan panjang besok hari ke Ora Beach.



Tips & Info :

Untuk  menuju pusat kota Ambon bisa ditempuh dengan 3 cara :
  1. Sewa mobil dari airport dengan biaya sekitar 200-300rb/mobil, tergantung nego. Pilihan yang paling gampang dan praktis tapi kalau travel sendiri costnya jadi tinggi (kurang lebih 1 jam)
  2. Naik damri, biayanya 35rb tapi schedulenya kurang jelas. Jadi sebelum damri penuh mereka akan menunggu sampai dengan penerbangan yang cukup berdekatan landing semua (perjalananan kurang lebih 1 jam)
  3. Naik angkot merah dari bandara yang ada diluar gerbang bandara, minta turun di kampung jawa (pelabuhan speed), dari sini naik speed kira-kira 10-15 menit (biaya sekiar 5-10ribu), turun di pasar Mahardika dan dari pasar ini bisa naik angkot atau ojek ke pusat kota.


Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser