Kampung Naga, bukan kampung biasa

Kaki yang sudah mulai gatal  dan mata yang haus dengan pemandangan baru sepertinya berteriak ingin dibawa menjelajah tempat baru, trip yang bisa dilakukan pas di weekend saja, sehingga pilihan kali ini jatuh ke kota Tasikmalaya dan sekitarnya, yaitu gunung Galunggung dan Kampung Naga. Mencari informasi wisata di Tasikmalaya tidaklah sulit dengan bantuan mbah google, tetapi begitu jemari ini menekan search untuk mencari sarana transportasi dan lokasi tepatnya tempat wisata, tidak banyak informasi yang cukup, harapan satu satunya cuma pas di Tasik kita bisa mendapatkan informasi tersebut karena selain dua tempat diatas kami juga memasukkan dua tempat ini ke itinerary kami.
  1. Curug dendeng, bentuknya bertingkat tingkat dengan air yang jernih, tapi sayang informasi transportasi umumnya kurang jelas, kebanyakan yang sudah pernah kesana menggunakan mobil/motor sendiri. Saat kami bertanya dengan orang lokal pun mereka juga tidak tahu cara menuju kesana.
  2. Rumah Batu, sayang kami juga tidak berhasil kesana karena tidak ada informasi lokasinya ada dimana.

Tujuan pertama yang kami hendak tuju adalah Kampung naga karena posisinya yang berada antara jalan raya antara Tasik dan Garut, tetapi kami mendapatkan informasi yang salah. Kami naik bis Primajasa dari Cicilitan jurusan Tasikmalaya dan ternyata bis ini tidak melewati kampung naga, seharusnya kami naik bis jurusan Singaparna, ya sudahlah yah nasi sudah jadi bubur toh, nikmati sajalah ya.

Dari pool primajasa kita harus naik angkot lagi atau ojek ke sebuah persimpangan (lupa euy namanya), dari sini kita naik elf jurusan Tasik-Garut dan minta diturunin di Kampung Naga. Perjalanan sudah sekitar 1.5 jam ketika si abang supir bilang "kampung naga....kampung naga", bersiap siaplah kami turun, baru saja pant*t meninggalkan jok kursi, tiba tiba si abang ngomong "belum teh, siap siap aja, masih di depan", ya elah si abang.


Tidak ada biaya tiket masuk untuk melihat kampung naga ini hanya diwajibkan untuk menggunakan guide lokal dan membayar seikhlasnya, lama tour sekitar 1-2 jam. Lokasi kampung ini dibawah jalan raya, kita harus menuruni sebanyak 429 tangga untuk sampai ke komplek kampung ini. Kampung Naga ini sebenarnya mirip dengan Kampung Baduy tetapi adat dan paham yang mereka anut berbeda, misalnya kampung Naga ini membatasi luas area perkampungannya tetapi tidak membatasi jumlah bangunannya sedangkan di Badui mereka membatasi  jumlah bangunannya.


Terdapat 113 bangunan di kampung ini tetapi yang dihuni hanya sebesar 20% saja, sebagian besar sudah pindah ke luar dari kampung naga. Setiap bangunan harus memenuhi peraturan adat yang telah ada, bentuk rumah harus panggung dengan bahan dari bambu dan kayu beratap dari daun nipah, ijuk atau alang alang sementara lantai rumah harus dari bambu dan papan.

Posisi rumah harus menghadap utara dan selatan dan memanjang ke arah Barat dan Timur. Setiap rumah terdiri dari dua pintu yaitu pintu dapur (biasanya dari anyaman bambu) dan pintu rumah utama dari papan, dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag, rumah tidak boleh dicat kecuali dikapur atau dimeni.


Rumah juga tidak boleh dilengkapi dengan perabotan seperti meja, kursi, dan lain lain, toilet terdapat di luar area rumah yang digunakan secara bersama-sama, ada beberapa toilet umum di kampung ini. Kami diajak mampir ke rumah si bapak guide, beralaskan tikar di ruang tamu rumah ini kami dijamu teh manis hangat dan si bapak pun mulai mendongeg mengenai sejarah kampung naga ini. Tidak ada barang elektronik apapun dirumah ini, memang tidak diijinkan oleh ketua adat, rumah ini hanya terdirii dari 3 ruangan yaitu ruang tamu dan di sebelahnya adalah ruangan dapur yang merangkap ruang makan dan kamar.


Ada yang unik di ruang makan ini (tentu saja selain tungku memasak mereka), lantai dapur mereka terbuat dari lantai papan yang dipasang agak renggang, sehingga remah remah nasi yang terjatuh bisa langsung disapu ke bawah lantai, langsung ke kandang ayam, pintar ya. Mereka masih memegang kental konsep gotong royong, jadi jika ada warga yang ingin membangun rumah maka masyarakat akan gotong royong untuk membangun, mulai dari mencari bahan-bahan sampai rumah itu siap dihuni.


Anak-anak kampung naga bersekolah di kampung terdekat, lumayan juga jalan yang mereka tempuh tiap hari dan belum ada listrik disini, penerangan menggunakan lampu teplok. Yang saya sayangkan adalah mereka sudah tidak menggunakan pakaian tradisional lagi seperti di kampung badu (khususnya badui dalam), pakaian yang mereka gunakan sudah sama dengan pakaian kita tatpi tentunya bukan rok mini atau hot pant ya.

Bagi yang ingin merasakan tinggal dalam keheningan, kita bisa menyewa 100-200ribu/rumah/malam untuk sekitar 4-5 orang dan uang makan sebesar Rp. 30.000/orang, tetapi ini harus mendapat ijin dari ketua adat dulu dan mendaftar di koperasi di dekat pintu utama sebelum masuk kawasan kampung naga. Kita bisa menemukan rumah rumah warga yang dimanfaatkan untuk menjual barang barang tenunan seperti gelang gelang, cincin, dan juga tas, harganya tidak mahal.


Saya terkesan dengan pengaturan atas kampung wisata kampung naga ini karena dikelola oleh koperasi, tips yang didapatkan oleh guide yang bertugas akan dikumpulkan dibagi dengan guide guide yang kebetulan tidak bertugas, begitu juga tukang parkir mereka mendapatkan gaji dan bagian, tidak ada premanisasi dan bapak guidenya juga bukan money oriented begitu juga bapak penjaga parkir, ditawari makan dan minum pun mereka segan, setelah kita setengah memaksa baru mereka mau mengorder secangkir kopi. Si bapak juga membantu mencarikan angkot di jalan raya buat kami dan si abang angkot yang emang lagi kosong menjemput kami tepat di depan warung dan bahkan menunggu kami untuk mengambil photo di depan halanman kampung naga ini, makasi lo pak.


Tips ke Kampung Naga :
  1. Kalau dari Jakarta sebaiknya naik bis dari Jakarta - Garut-Singaparna, tinggal turun deh di kampung naga
  2. Enaknya kesini pagi hari, pengunjung tidak begitu rame 
  3. Kalau mau ke Garut atau ke Tasik dari sini, tinggal naik angkot lagi. kalau mau ke tasik harus nyambung angkot di terminal singaparna
  4. Jangan lupa ajak ajak bapak guide nya makan atau minum kalau ada waktu ya
  5. Ngasi uang guide jangan telalu pelit ya, kondisikan lah dengan jumlah orangnya


Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser