Warna warni Museum Kata, Belitung Timur

Perubahan jadwal penerbangan dari Sriwijaya membuatku harus mengorbankan beberapa tempat di Belitung Timur, 2 jam yang berharga hilang tapi kita tidak ada pilihan karena semua connecting flight sudah diissued.

Airport Belitung tidak begitu besar tetapi rapi, bersih  dan terorganisir dengan baik, disediakan beberapa kursi kayu sebagai area menunggu. Di pintu kedatangan banyak supir yang menawarkan taxi, jadi kalau belum punya kendaraan  ke pusat kota bisa langsung pesan dari airport demgan biaya sharing sekitar Rp. 35.000/orang tetapi mobil akan berangkat jika penumpang sudah penuh ataupun mereka akan menuggu penerbangan terdekat.

Waktu saya sangat terbatas di hari pertama ini jadi saya memilih untuk memesan transport dari travel di Belitung dengan biaya Rp. 80.000 (harga setelah nego). Jalan raya di Belitung jauh dari padat bahkan bisa dibilang agak sepi, tidak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang, dengan jalanan yang sudah teraspal bagus  bandara ke pusat kota bisa ditempuh dengan sangat singkat, sekitar 20 menit.

Langit tampak mendung saat motor yang kami kendarai meluncur ke daerah Gantung di Belitung Timur, kami harus bergegas sebelum hujan turun. Kami menggunakan google maps sebagai penunjuk jalan dan rutenya sangat gampang, tidak seperti di Jakarta yang banyak sekali ruas jalan dan belokannya, di Belitung ini tidak ada jalan yang membuat bingung, bahkan bisa dibilang jalanannya lurus lurus saja, jarak antar belokan termasuk sangat jauh. Belum juga setengah perjalanan hujan turun membasahi bumi, untunglah tidak begitu deras sehingga kami masih bisa melaju dibawah lindungan jas hujan, sepanjang jalan menuju Gantung ini banyak sekali rawa-rawa di kiri kanan jalan.

Replika SD Muhammadiyah di desa Gantung belum ramai saat kami tiba, hanya ada 2 rombongan kecil yang sedang asyik berphoto, uang masuknya pun cukup murah, cuma Rp. 3000/orang. Bangunan sekolah ini terbuat dari papan yang sudah kelihatan tua, bendera merah putih berkibar di lapangan sekolah, terdapat dua kelas yang berisi beberapa meja dan kursi kosong dan papan tulis di setiap ruangannya, tidak ada informasi/sejarah mengenai sekolah ini. Mungkin menurut pengelola itu tidak perlu karena semua orang sudah tahu Laskar Pelangi tetapi menurut saya alangkah baiknya jika di setiap kelas dibuatkan beberapa informasi singkat mengenai sekolah ini. Menjelaskan kenapa sd replika inidibangun disini, berapa orang yang dulu sekolah disini dan lain lain karena tidak mungkin kita mengingat detail yang ada dibukunya ataupun di filmmya bukan?

Tidak jauh dari sekolah ini ada sebuah lokasi yang menarik buat photo-photo, saat ini belum dibuka tetapi sepertinya akan dibuat jadi restaurant di pinggir danau (rawa_ dan nantinya tamu bisa mengelilingi danau dengan perahu.

Museum Kata yang berlokasi sekitar 20 menit dari sekolah ini adalah tujuan kami selanjutnya, museum ini adalah museum kata pertama di Indonesia. Tidak akan sulit menemukan bangunan ini karena warnanya yang colourful dan menyolok dan tepat berada di sisi jalan raya, bersebrangan dengan mesjid. Bangunan utama dikelilingi oleh tembok tinggi yang didesign menyerupai dinding rumah dengan daun pintu dan jendela (atau mungkin sedang memperluas bangunan rumah utama? Entahlah, kita lihat saja nanti kalau renovasi ini sudah selesai).

Begitu kita memasuki  pintu utama museum kita akan disambut dengan puluhan pigura kata yang digantung di dinding dinding rumah. Tidak ada dinding yang luput dari lukisan kata ini, setiap ruangan didesign dengan tema yang berbeda  ada kata kata mengenai cinta, hidup, perjuangan dan lain lain, begitu cantik dan artistic

Di bagian belakang museum disulap menjadi warung kopi sederhana merangkap dapur, kopi kuli, harga per gelasnya sekitar Rp. 9000, layak buat dicoba.


Keluar dari dapur di sebelah kiri ada toko souvenir sementara di sebelah kanan terdapat ruangan terbuka yang yang luas, dicat dengan warna warni yang colourful, kombinasi tabrak warna yang memikat, di area ini juga terdapat area buat anak anak belajar, sementara di sudut yang lain yang letaknya agak jauh dari bangunan utama terdapat sekolah pelangi, sekolah gratis yang didirikan oleh  si pencetus museum kata ini, Andrea Hirata.

Kami berbegas pulang ke Tanjung Pandan untuk menghindari kemalaman di jalanan, maklum jalanan agak sepi dan terpaksa membatalkan niat berkungjung ke kota Manggar. Malam ini ditutup dengan makan mie atep di Jalan Sudirman sekalian ketemuan dengan teman ngetrip dari Batam, kak Erni, Fenny dan kak Linda dan juga ngopi di warung Ake sambil ketemuan dengan salah satu backpacker dari Belitung, mas Jack.


Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser