Keindahan Air Terjun Mata Jitu Pulau Moyo

Setelah  makan siang dan beristirahat sebentar kami berangkat menuju air terjun Mata Jitu dengan ojek yang kami bayar Rp. 100.000/orang, untuk harga ini kami bisa mengunjungi 2 air terjun. Bisa sih jalan kaki tetapi jaraknya lumayan jauh dan kami tidak punya banyak waktu. Jalan yang kami lewati cukup lebar dengan tekstur tanah berbatu batu, karena itulah ojek yang ada disini pun kebanyakan motor besar bukan sejenis motor bebek.

Berpeganganlah yang kencang karena jangan harap si bapak akan memperlambat kendaraan. Dengan medan yang seperti ini wajar saja mereka meminta bayaran Rp. 100.000, soalnya kita seperti roller coaster. Perjalanan seperti ini berlangsung sekitar 20-30 menit, track terakhir adalah berupa jalan tanah di hutan.
Air terjun mata jitu ini adalah satu objek  wisata yang sangat terkenal karena keindahannya, apalagi setelah Lady Di  pernah mengunjungi dan  mandi disini. Menurut warga sekitar, pihak resort Amanwana  menyediakan tempat khusus bagi tamunya untuk berendam (banyak artis Hollywood yang menginap di Amanwana).
Air  terjun-nya tidak begitu tinggi, tetapi aliran airnya membentuk kolam kolam kecil yang berundak undak yang berwarna hijau Tosca, cantik sekali. Kami sangat beruntung karena waktu sampai disana tidak ada orang, hanya kami dan bapak ojek yang dengan sukarela mengantarkan kami tanpa diminta. Tak tahan dengan godaan segarnya air kami pun terjun berendam kedalam dinginya air dibawah air terjun, jangan menggunakan shampoo dan sabun ya biar airnya tidak terkontaminasi.
Air terjun kedua yang kami tuju adalah Diwu Mbai yang jaraknya hanya sekitar 10-15 menit naik motor dari pusat desa, ini berarti dari air terjun Mata Jitu kita harus kembali ke arah desa dulu. Jalanan yang kita lalui cukup bagus sudah diaspal, tetapi sesekali kita harus turun/naik ojek saat melewati aliran sungai sungai kecil. Setelah meninggalkan desa kita akan berjalan di bawah pohon pohon yang mengapit jalan, sangat indah.
Karena  lokasi air terjun tidak jauh dari pusat kota, tempat ini ramai  sekali. Banyak orang yang mencoba keberanian dengan bergelantungan di tali yang telah  disediakan dan melompat ke air terjun yang berwarna hijau kebiruan. Mungkin kalau kita telusuri lebih jauh kita bisa ketemu tempat yang lebih  sepi (mungkin ya).
Kapal kami melaju ke Takat Sagele untuk menikmati sunset tetapi dari  sepertinya Takat Sagele sudah mulai ramai, dengan kondisi sebahagian besar Takat Sagele sudah digenangi air laut pastinya sudah tidak begitu nyaman lagi untuk kesana, jadi si bapak kapal membawa kami ke tepi pantai di sisi lain yang menghadap Barat. Hanya kami berlima disini, menikmati deburan ombak, bermain pasir sampai akhirnya sang mentari mengucapkan selamat malam.

Penjual makanan hijrah ke lapangan karena ada pesta pernikahan  dan tentunya kami pun ikutan mengekor. Sudah banyak warga yang berkumpul di sekitar lapangan baik yang hanya sekedar numpang makan seperti kami atau warga yang ingin menyaksikan acara dangdutan maupun warga yang ingin menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Panggung sudah ada, alat music pun sudah siap dan kursi kursi tamu sudah disusun rapi tapi anehnya tidak ada undangan yang duduk. Dan ternyata menurut ibu pemilik homestay kami, yang mau nonton dangdutan, bahwa adat di Sumbawa adalah undangan tidak akan duduk sebelum pengantin tiba. Pengantin akan berdiri di pintu masuk saat tamu undangan dan bersalaman, baru kemudian undangan akan menempati kursi yang telah disediakan. Culture yang unik, berbeda dengan daerah lain.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser