Bromo berselimut Kabut

Sisa sisa hujan deras tadi malam masih meninggalkan gerimis saat kami dijemput Jeep jam 3.30 pagi. Angin yang bertiup sangat dingin seperti mengandung es,  masih terasa menusuk kulit walaupun kita sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal.  Rasanya mustahil kami bisa menyaksikan sunrise indah Bromo dan ini akan memjadi ketiga kalinya aku gagal melihat sunrise disini.


Saat tiba di penanjakan 1, telah banyak orang yang sampai tapi karena gerimis masih turun dan hari pun masih gelap, kami menikmati gorengan dan secangkir kopi panas di warung sekitar penanjakan.  Sekitar jam  jam 5 kami pun naik "sunrise view spot", orang-orang telah ramai berkumpul di "pendopo" yang disediakan lengkap dengan jas hujan masing-masing.

Masih berharap matahari akan muncul tepat waktu, kami menunggu dengan sabar, mengisi waktu dengan menyanyikan lagu lagu nasional seperti Indonesia Raya, Hening Cipta dan lain lain (yeah, tiba tiba rasa nasionalisme kami sangat tinggi).

Tak muncul juga sampai jam 6 pagi kami langsung menuju gunung Bromo, hujan sudah berhenti tetapi cuaca sangat berkabut. Puncak gunung Bromo & gunung Batok yang biasanya kelihatan dari parkiran jeep Bromo hari ini sama sekali tidak kelihatan, kita seolah olah berada dalam tirai kabut.

Savana/bukit teletubis bukan pada moment-nya, bunga bunga dan rerumputan mengering, kurang menarik. Pasir berbisik pun tak mampu berbisik lagi karena pasirnya yang agak lembab pengaruh hujan tadi malam.

Hari ini kami kembali ke Surabaya, menginap 1 malam lagi di Surabaya dan akhirnya berpisah kembali menuju "kampung" masing masing. Saya kembali ke Jakarta, Dewes kembali ke Batam sedangkan Rita dan Ida melanjutkan perjalanan ke Dieng.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser