Menerjang Hujan dari Danau Kaolin Belitung

Suara alarm memecahkan keheningan pagi, jam ditangan masih menunjukkan waktu 5.30 pagi, dengan malas aku terpaksa bangun. Hari ini jadwal kami agak padat, jadi demi mengejar schedule hopping island ke Pulau Lengkuas, kami harus berangkat lebih pagi ke Danau Kaolin. Ditengah kesibukan kami beres beres dan packing, ketukan pintu mengejutkanku, masih pukul 6 pagi. Ternyata pihak hostel yang mengantarkan sarapan berupa gorengan 6 buah dan 2 gelas teh manis, bisa dibayangkan bagaimana sambutan penghuni kamar lain yang masih dilelap mimpi.

Berbekal GPS dan panduan dari pihak hostel, motor kami meluncur di jalanan Belitung yang masih sangat sepi. Jika bertanya pada warga lokal mengenai informasi danau ini, jelaskan apa yang kamu cari karena Kaolin juga nama beberapa perusahaan penambang Kaolin di Belitung ini.


Danau Kaolin kami tempuh sekitar 15 menit dari hostel Surya. Kawasan danau ini sudah dipagar kayu untuk mencegah pengunjung agar tidak masuk ke dalam kawasan danau karena pematang yang ada di tengah tengah danau rawan longsor. Hanya ada 1 gundukan/pematang yang tidak begitu besar yang memisahkan area danau yang lebih besar yang sudah hampir menyatu dengan area danau yang lebih kecil, sangat berbeda dengan photo photo yang beredar di dunia maya. Mungkin nantinya pematang pematang tersebut akan habis tergerus dan akhirnya membentuk danau yang lebih luas dan nantinya mungkin akan kelihatan sama seperti Kawah Putih.

Bekas area tambang ini masih luas, di sisi yang lain kita bisa melihat danau danau kecil yang sudah mulai terbentuk, mungkin nantinya hamparan sisa kaolin itupun akan tergerus habi. Saya tidak bisa membayangkan berapa luas "danau" ini nantinya? Tepat disebrang jalan danau ini, tampak pekerja dengan mesin mereka mulai melakukan pengerukan/penambangan kaolin baru. Suatu hari nanti mungkin terdapat danau Kaolin di kiri kanan jalan kecil ini.


Satu jam kemudian kami sudah berada di perjalanan menuju Tanjung Kelayang, awan mendung menyelimuti langit, gemuruh halilintar bersahut sahutan. Benar saja, tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Kami bisa saja berhenti untuk berteduh dan berharap hujan akan berhenti, tetapi dengan keadaan yang seperti ini, kita tidak tahu apakah hujan akan berhenti atau tidak. Aku hanya kuatir kalau di Tanjung Kelayang tidak hujan dan kami akan tiba sangat terlambat untuk hopping island, jadi dibawah lindungan jas hujan kami menerobos hujan, berharap hujan akan berbaik hati dengan kami, ia akan berhenti mengguyur kami. Kami tidak punya waktu lagi untuk Hopping Island, jadi jika hujan tetap enggan untuk berhenti kami harus pulang dengan kecewa tanpa sempat Hopping Island.

Entahlah sudah berapa lama kami bermotor, melihat jam pun aku sudah sangat sulit, aku tidak bisa melihat apa apa di dalam jas hujan ini tapi aku bisa merasakan guyuran hujan sudah tidak sederas tadi, thanks God, akhirnya kami tidak perlu pulang dengan kecewa. Jalur yang kami ambil ini ternyata membawa kami sedikit lebih jauh dari jalur biasa, dari jalur ini sebenarnya Pantai Laskar Pelangi jauh lebih dekat, tapi tujuan kami adalah Tanjung Kelayang dan akhirnya walau terlambat 20 menit dari jadwal, kami masih bisa Hopping Island.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser