Explore South East Asia [Part 7] : Makan Malam di Hanoi

Karena banyaknya berita mengenai scam taxi di Noi Bai Airport-Hanoi, aku membooking mobil dari hostel. Tariff-nya lumayan mahal sih $15, sehingga kalau travel sendiri mungkin lebih bagus mengambil transport umum walaupun harus berganti bus beberapa kali. Tetapi saran saya kalau  tiba malam hari, sebaiknya booking mobil dari hostel. Taxi scam yang terjadi yaitu menaikkan tarif ditengah jalan walaupun sudah dinego dari awal atau yang sering terjadi adalah mereka membawa kita ke hotel yang berbeda dari hostel yang kita booking dengan alasan bahwa hostel yang kita booking penuh. Perjalanan airport ke Old Quarter memakan waktu sekitar 45 menit.

Perut kelaparan tapi stock Dong kami sudah menipis, jadi terpaksa harus mencari money changer dulu. Sebenarnya di hostel mau menukar tapi cuma terbatas $ 100 dan rate-nya agak rendah dan karena kami butuh lebih dari $ 100 kami pun tetap ke money changer. Kami sudah mutar mutar beberapa kali di lokasi yang  dimaksud oleh resepsionis tetapi kami tidak menemukan money changer yang dimaksud, hanya ada beberapa toko emas di sekitar itu.

Akhirnya dengan uang dong yang terbatas kami mencari tempat makan murah meriah khususnya pho yang tidak menggunakan daging sapi karena salah seorang teman tidak memakan daging sapi, tetapi kami menemukan kendala tiap lewat tempat makan karena tidak ada menunya, semuanya dalam bahasa vietnam dan kami juga  tidak tahu bahasa vietnamnya ayam.

Tibalah kami pada satu tempat makan yang lumayan rame dan kami melihat ada buku menu dan memutuskan untuk membeli pho, mudah-mudahan mereka menjual pho ayam atau apapun selain sapi yang bisa dimakan oleh teman saya. Tetapi karena duit terbatas kami harus mengkalkulasi uang yang tersisa karena mereka tidak menerima pembayaran dengand Dollar.

Aku : "Duit kalian tinggal berapa"?
Rina: "Gue tinggal 40.000 dong."
Kristin: "Gue paling juga 10.000 dong".
Aku: "Gue masih ada 50.000an sih, berarti kita cuma bisa order 2 mangkok dan  nggak pake minum". Rina: "Ya udah gap apa apa, ntar gua cari roti or apa aja deh".
Dan tiba tiba suara asing menyela "dari Indonesia ya"? Hufff, jadi selama ini ada orang yang mengerti apa yang kami omongin. Pasti dari tadi dia senyum senyum mendengar kami kehabisan duit, ufff...malunya. Dengan lugu kami mengiyakan dan meminta tolong untuk menanyakan apakah stall ini menjual pho ayam? Dia berusaha membantu walaupun dia mengaku bahasa vietnam nya tidak begitu bagus dan turn out, mereka juga hanya menjual pho bo (sapi). Sehabis say thank you, kami langsung ngeloyor pergi, padahal tadi niatnya pengen order, udah separuh jalan baru sadar kenapa kita ngeloyor pergi...malu kali ya? Hahahaha....

Akhirnya kami balik ke hotel dan menukar $20 di resepsionis hotel untuk makan. Dan si resepsionis ini juga menjelaskan bahwa money changer yang ia maksud adalah toko emas tersebut, karena selain berfungsi sebagai toko emas ternyata dia juga melayani pembelian mata uang asing. Astaga, siapa juga yang tahu ya.

Aku dan Rina memutuskan kembali untuk mencari makan di dekat hostel sedangkan Kristin memutuskan untuk mengemil mie instant saja. Belum jauh berjalan, kami menemukan penjual kaki lima yang sepertinya menjual pho. Di Old Quarter ini memang banyak sekali penjual makanan kaki lima yang biasanya berjualan dari sore sampai malam. Orang orang vietnam sendiri suka untuk berkumpul, duduk dan makan ditempat tempat seperti ini.

Sambil menunjuk tulisan di sebuah papan yang tergantung di dinding (asumsi kami bahwa papan tersebut adalah menu), saya memberi isyarat saya ingin mengorder 1. Si penjual menjaab dengan bahasa vietnam yang sama sekali kami tak mengerti. Aku tetap menunjuk menu yang aku maksud. Beberapa orang lokal yang sedang duduk duduk tak bisa melepaskan pandangannya dari kami, mereka tersenyum geli melihat "aksi" kami. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba Rina berhasil memesan yang dia inginkan tetapi pesananku gagal total. Tak lama kemudian si penjual mengantarkan minuman ke meja kami sambil menyebutkan menu yang kami order. Saya dan Rina terdiam dan akhirnya tertawa terbahak bahak, ternyata yang kami order adalah minuman, yang  semula kami duga adalah sejenis mie.

Kembali ke hotel, kami menanyakan ke resepsionis maksud dari tulisan dinding di stall pinggiran jalan tersebut. Dan ternyata, menu yang hendak saya order yang adalah nama jalan dimana si penjual itu berjualan, pantesan kami tidak berhasil mengorder "menu" tersebut, ternyata saya mengorder jalan toh hahahahaha.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser