Pesona Bahari Pulau Moyo, Sumbawa

Kami berangkat ke desa Ai Bari naik motor dibonceng oleh teman teman dari Adventurous Sumbawa yaitu Bang Ian, Mba Echi , Mba Renny dan temannya Mba Renny (yang maaf, namanya saya lupa). Kami cukup beruntung pihak hotel mau menampung tas backpack gede kami sehingga kami bisa berangkat dengan daypack saja. Ternyata desa ini cukup jauh dari kota Sumbawa, kami berkendara kurang lebih 1 jam dengan jalanan yang belum teraspal dengan baik, berbatu batu dan banyak lobang dimana mana.

Sebenarnya ada perasaan tidak enak hati dengan teman teman ini karena mereka mereka akan menempuh 1 jam perjalanan lagi untuk kembali ke Sumbawa. Kami ikhlas saat aku menyelipkan sedikit uang ke Bang Ian sebagai pengganti uang minyak, tetapi bang Ian dengan tegas menolak dan kami pun tidak bisa memaksa. Sebelum pulang masih sempat-sempatnya mengaturkan itinerary kapal kami dengan anaknya pemilik kapal yang akan membawa kami ke Moyo.

Matahari bersinar dengan teriknya, kita seperti ikan asin yang dijemur tetapi karena masih lumayan tertolong karena ada angina yang berhembus. Perjalanan  Ai Bari ke Labuan Aji, Moyo sekitar 2 - 3 jam tergantung kondisi ombak. Untuk menghemat waktu langsung snoklingTakat Sagele. Karangnya masih bagus walau tidak sepadat yang di Kenawa, ikan-ikannya pun variatif tetapi sayangnya karena sudah agak siang arus agak kencang.
Takat Sagele yaitu berupa  gundukan pasir serpihan serpihan karang yang membentuk seperti pulau kecil di tengah laut. Tempat ini  juga merupakan lokasi yang bagus untuk melihat sunset. Air laut sudah mulai pasang, air laut sudah mulai menutupi sebahagian Takat Sagele dan karena teralu dangkal kapal tidak bisa mendekat dan akhirnya kami harus berenang melawan arus.
Berenang dengan arus yang agak kencang tidaklah gampang apalagi kalau menggunakan pelampung, dengan mudahnya ombak mengombang ombangin kita, menjauhkan dari tujuan. Hal ini pula yang membuat si bapak kapal memutuskan untuk membatalkan ke Pantai Tanjung Pasir dan kapal pun diarahkan ke Labuan Aji yang lamanya sekitar 15-20 menit dari sini

Begitu turun dari kapal kami disambut dengan sapaan seorang Bapak paruh baya yang ternyata adalah Pak Mahendar, pemilik homestay yang direkomendasikan oleh teman Adventurous Sumbawa tetapi sayang homestaynya penuh karena sedang ada kondangan. Dan kami pun menyewa rumah warga yang ternyata masih saudaraan dengan Pak Mahendra yang syukurlah masih dibawah harga pasar, tetapi tidak termasuk makan.

Lokasi rumahnya tidak jauh dari pantai dan lapangan yang biasanya digunakan warga buat acara acara tertentu. Sebenarnya harga tersebut terbilang sangat mahal, bayangkan saja ini hanya rumah biasa saja bukan pula rumah tradisional tetapi beginilah harga disini, mudah - mudahan kedepannya harga homestay lebih ramah kepada turis lokal. Menurut mereka harga standar disini adalah Rp 250.000/orang per malam termasuk 3x makan, untunglah kami bisa menyewa homestaynya saja, jatuhnya lebih murah. Untuk makan tidak perlu kuatir, ada warung warung penjual makanan disini walaupun tidak banyak, harganya pun tidaklah terlalu mahal, sekitar Rp 18.000 - Rp 25.000.



Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser