Pantai Lubang yang unik di Ambon

Hari ini adalah hari terakhir kita di Ambon dan sebelum pulang kita akan mengunjungi beberapa spot wisata di kota ini.  Biar efesien, barang barang pun diboyong di bagasi mobil. Spot pertama  yang kami tuju adalah Gong Perdamaian yang lokasinya ada di pusat kota, tidak jauh dari Lapangan Merdeka dimana lokasi tulisan "Ambon Manise" berada. Gong ini adalah ikon yang melambangkan bahwa Ambon telah damai dari kerusuhan.



Pantai Liang adalah pantai terjauh yang akan kita kunjungi, pantai ini merupakan salah satu pantai terindah di Ambon, jaraknya sekitar 1.5 jam dari pusat kota. Pantai ini wajib dikungjungi saat kita berkunjung ke Ambon. Saat kami sampai pantai ini masih sepi dari pengunjung tetapi "pencari rupiah' sudah mulai mempersiapkan jasa mereka.


Warung warung di tepi pantai sudah siap dengan dagangan mereka, penjaja makanan keliling telah mulai menawarkan dagangan mereka, penyewa ban mulai mencuci dan membereskan bawaan mereka, penyewa kapal sudah mulai menawarkan kapalnya kepada kami untuk disewakan. Menurut pak supir, pantai ini akan mulai ramai dikunjungi masyarakat setelah ibadah hari Minggu.


Pantai Liang ini memiliki pantai yang sangat luas dan berpasir putih dan pepohonan rindang di pinggir pantai menambah daya tarik pantai ini, menurut saya pepohonan ini yang membuat pantai ini berbeda dengan pantai pantai lainnya. Seharusnya dari pantai ini kita akan melihat pulau seram tapi pulau tersebut tetutup kabut asap.


Puas makan gorengan dan minum kopi di pantai Liang, kami pun melanjutkan ke spot selanjutnya yaitu pantai Netsepa yang tekenal dengan rujaknya tetapi sebelum itu kami singgah di pemandian air panas Tulehu (ada yang penasaran), dengan harapan akan melihat aliran air panas yang masih natural. Tetapi sayang aliran tersebut terblock dengan bangunan-bangunan pemandian air panas, dimana mereka membuat kolam kolam penampungan air panas untuk berendam. Kita hanya ijin mengintip ke sebuah lokasi pemandian tanpa membayar karcis karena tidak niat untuk mandi juga.

Air laut di pantai Netsepa sedang sangat surut padahal katanya di pantai ini kita bisa melakukan aktivitas air. Pengunjung pun masih sepi mungkin karena belum pulang gereja, bahkan penjual rujak Netsepa pun belum semuanya mulai berjualan.

Pantai ini memiliki pantai pasir putih yang lumayan luas tapi tetap saja aku lebih suka pantai Liang yang asri. Tujuan utama kami ke pantai ini adalah menikmati rujaknya yang "legendaris", katanya nih, kalo belum makan rujak Netsepa belum ke Ambon. Rujaknya adalah rujak buah biasa sama seperti daerah lain, tetapi yang membuat berbeda adalah kacangnya yang ditumbuk kasar. Enak!


Kemarin kita mendapatkan informasi dari teman lokal bahwa ada pantai yang masih belum terjamah yang menarik dan unik untuk dikunjungi dan kita pun memutuskan untuk pergi ke pantai itu. Setelah makan siang, teman yang terbang lebih dulu kita drop di bandara, dan kita pun langsung menuju ke pantai Lubang. Untungnya bandara dan pantai ini searah.

Pantai ini mirip pantai pintu kota, yang menjadi perbedaan adalah lubang yang ada di pantai pintu kota berada di dasar tebing sementara lubang di pantai ini berada di tengah tengah tebing dan dari situ kita bisa melihat laguna di dalam tebing tersebut. Lagunanya bagus, airnya berwarna biru kehijau hijauan, tetapi sekaligus agak menyeramkan. Ada beberapa warga yang menyoba menyebrang ke sisi tebing yang lain dengan menggunakan akar pohon sebagai alat bantu, beresiko, tapi sepertinya warga local sudah biasa mungkin.

Sangat sulit menemukan tempat ini karena informasinya yang kurang jelas, bahkan ada beberapa warga tidak tahu lokasi tempat ini. Sudah bertanya sana-sini, kami masih tidak bias menemukan jalan masuk pantainya, sehingga hampir saja kami terpaksa membatalkan niat kami untuk ke pantai ini.

Jadi ceritanya, saat kami bertanya pada seorang warga dimana pantai ini, dia meminta kami untuk memutar balik karena sudah lewat. Tapi setelah mutar balik tak juga kami temukan pantai tersebut dan kita bertanya lagi pada warga yang lain. Jawaban dia sungguh  mengejutkan, karena dia bilang pantai tersebut masih sangat jauh, mungkin sekitar 1 jam lagi. Pak supir pun mengkonfirmasi hal yang sama, entah karena sudah malas atau memang tidak tahu. Tetapi entahlah, aku sepertinya kurang agak percaya karena informasi yang saya dapatkan dari teman dan internet, pantai ini tidak jauh lokasinya dari airport.

Mencoba keberuntungan, kami pun mencoba bertanya lagi kepada seorang warga, lengkap dengan menunjukkan foto dan ternyata pantai ini sangat dekat. Perjuangan pun tidak sia-sia, akhirnya kami pun berhasil menemukan pantai tersebut yang memang tidak begitu jauh dari airport, dan sudah tidak jauh dari lokasi kami bertanya tersebut. Menurut pak supir dia pikir pantai yang kami cari adalah pantai di salah satu desa yaitu Desa Lubang yang memang jaraknya masih sangat jauh. Untung kami tidak putus asa.


Sulitnya menemukan tempat ini karena tidak adanya petunjuk yang jelas, di pinggir jalan hanya ada 1 saung sebagai 'pintu masuk' yang biasanya dijaga oleh anak anak muda. Retribusi masuk ke pantai Rp.5000/orang yang biasanya dibayarkan di saung ini. Sebenarnya tidak ada aturan resmi tetapi warga lokal sendiri bayar kenapa kita tidak? Berbeda dengan pantai pantai lain, pantai ini bukan berpasir tetapi berbatu batu kecil, unik bukan ? Ombak pun disini cukup kencang, anak anak local bermain tanpa takut, mengikuti irama ombak. Pantai ini menarik untuk dikunjungi, untuk relaxing juga karena tempatnya yang agak tersembunyi dan rindang.


Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser