Perjalanan panjang Kalimati ke Ranupani (Part 4: Catatan Pendakian Gunung Semeru)

Tenda tenda sudah selesai dipack, kami pun bersiap untuk turun langsung ke Ranupani. Barang-barang Rona yang jatuh sakit dioper ke porter dan teman yang lain. (baca juga : summit Mahameru)

Perjalanan turun sampai Ranu Kumbolo lumayan lancar walau betis ini rasanya sakitnya bukan main saat melangkah di turunan. kami sudah kehabisan air minum tetapi tidak kuatir karena air di Ranu Kumbolo bisa langsung diminum. Tetapi kami harus gigit jari karena saat kami sampai dan Ranu Kumbolo, lumpurnya sedang naik sehingga waktu air Ranukumbolo mengisi botol air minum kita, warnanya sedikit butek dengan lumpur lumpur kecil mengapung di dalam air, mungkin harus diendapkan dulu beberapa waktu, tetapi kami tidak sabar karena tenggorokan ini sudah minta diisi.


Beruntung saat sebuah rombongan pendaki lain yang baru sampai (katanya sih dari Singapore) memberikan 1 botol aqua besar miliknya saat saya mencoba meminta iseng penuh harap, yeaaaah akhirnya bisa minum air bersih dan tentu saja minuman ini digilir semua ke team.

Perjalanan pulang ke Ranupani kami mengambil jalur melalui Watu Rejeng, yang ditempuh kurang lebih 9 jam. Rona yang berjalan sangat cepat dikawal oleh Harry dan Fauzan, porter kami sudah entah dimana, mungkin malah sudah sampai. Sementara aku, lidia dan Indra menjadi juru kunci di belakang. Hari sudah mulai gelap, tetapi kami masih berada di sisi gunung Semeru, baru saja melalui pos 3 dan kami tidak punya stock air minum sama sekali karena sisa air minum dibawa oleh Harry.

Entah karena badan sudah begitu sangat letih dan hari yang sudah gelap saat melalui jalur ini, aku merasa bahwa jalur ini lebih boring dan melelahkan karena jalur yang berputar-putar, seolah olah kita mengelilingi sebuah gunung yang tidak ada habis habisnya walaupun medannya tidak seberat jalur Gunung ayek ayek. Kelelahan dan dehidrasi aku sudah mulai berhalusinasi, entah melihat ada senter lampu di depan kami atau seperti ada post di depan kami. Indra dan Lidia mulai bernyanyi lagu-lagu rohani sementara saya fokus dengan jalan tanpa kacamata, bayangkan mata minus berjalan di dalam gelap dengan track yang berbatu batu, kacamata saya terbawa oleh Fauzan.

Perlahan tapi pasti akhirnya kami sampai juga di ujung jalan pendakian dan 3 ojek sudah menunggu kami, karena sudah terlalu malam Pak Sulis (porter) mengirimkan ojek untuk kami. Kami baru sampai sekitar jam 7.30 malam  di rumah Pak Sulis, basecamp sebelum perjalanan pulang besok ke Jakarta.

"There are a lot of thing occur along this journey that will remind on our mind, frienship, fun and much more

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser